Menanamkan Nilai Akhlak Melalui Cerita


Menanamkan Nilai Akhlak Melalui Cerita merupakan resensi atas buku Jejak Kaki Misterius karya Riawani Elyta, dkk terbitan Lintang, Indiva Media Kreasi
Hasil Scan Pribadi

Judul Buku : Jejak Kaki Misterius

Penulis : Riawani Elyta, Kayla Mubara, Pujia Achmad, Dian Onasis, Diannur Fajria, Afin Yulia, Anik Nuraeni, Yurie Zhafiera, Hairi Yanti, Erlita Pratiwi, Ilham Fauzi, Binta Al Mamba, Wawat Smart, Vanda Arie

Penerbit : Lintang, Indiva Media Kreasi

Terbit : Februari, 2016

Tebal : 144 hal; 20 cm

Isbn : 978-602-1614-86-0


Pendidikan memang penting. Terlebih lagi pendidikan anak usia dini. Anak-anak usia dini, sudah seharusnya ditanamkan pendidikan sedari dini terlebih pendidikan akhlak. Sebab, akhlak merupakan cerminan dari seseorang. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk bisa menanamkan pendidikan akhlak sejak dini. Salah satu cara yang cukup ampuh ialah melalui cerita.

Dengan menanamkan pendidikan akhlak melalui cerita, anak tidak akan merasa digurui. Sebaliknya, ia akan merasa terbawa suasana dalam cerita yang membuatnya secara tidak sadar akan mengikuti perilaku tokoh dalam cerita. Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting guna menjelaskan pada anak mana perilaku yang patut untuk ditiru dan mana yang tidak. Sehingga anak tidak salah dalam berperilaku nanti.

Seperti kisah dalam buku ini, yang berjudul Jejak Kaki Misterius karya Riawani Elyta. Anto dan Daffa seorang kakak-beradik yang terkejut dan tampak bingung ketika mereka melihat ada telapak kaki di sepanjang jalan samping rumah mereka. Seperti kemarin, tapak kaki itu terlihat mulai dari jalan samping yang belum ditutupi paving blok dan berakhir tepat di tembok belakang rumah. Anto tampak kesal, ia mengeram tangan kanannya. Wajar saja bila ia kesal. Ini adalah kali ketiga mereka berdua memergoki jejak-jejak kaki itu tanpa pernah sekalipun menangkap basah siapa pelakunya.

Anto dan Daffa sama-sama bersekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu. Jadwal pelajaran dan kegiatan mereka sangat padat, sehingga mereka berdua baru pulang sekolah pada sore hari. Sedangkan ayah dan ibu mereka biasanya baru tiba di rumah ketika hari sudah senja. Maka, dari pagi hingga petang rumah mereka dalam keadaan kosong. Untungnya, Anto dan Daffa sudah terbiasa mandiri dan disiplin. Begitu tiba dirumah, mereka akan segera mandi, salat Ashar, lalu istirahat. Namun, sejak tiga hari ini mereka berdua terpaksa melupakan tidur sore gara-gara jejak kaki misterius itu.

Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk menyelidiki siapa pelaku jejak kaki misterius itu. Kebetulan besok adalah hari Minggu. Sejak pagi, Anto dan Daffa bergantian mengawasi halaman rumah. Namun, sampai menjelang sore, tidak ada seorang pun yang lewat. Karena belum berhasil menemukan pelakunya, akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler. Jadi, sebelum sore, mereka bisa sampai di rumah.

Keesokkan harinya Anto dan Daffa langsung pulang seusai jam pelajaran sekolah. Hampir satu jam mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda kalau sang pemilik jejak itu akan melintasi halaman samping rumah. Keduanya sudah nyaris putus asa ketika tiba-tiba Dafa melihat sekelebat bayang-bayang masuk menerobos pagar depan yang tak terkunci. Ternyata sekelebat bayang-bayang itu adalah seorang anak laki-laki. Dia memeluk setumpuk koran dan berjalan dengan cara menyeret sebelah kakinya. Anto berteriak menanggil anak itu. Anak laki-laki itu langsung menoleh. Wajahnya langsung pucat. Saat Anto dn Daffa tiba di hadapannya, sejenak kedua mata mereka terpaku pada sepasang kaki anak itu yang ukurannya tidak sama besar. Kaki kanannya tampak lebih kecil dan kurus. Telapak kakinya tidak beralas, separuh terbenam pada permukaan tanah merah yang berlumpur.

Anak itu terisak saat Daffa menuduhnya sebagai pencuri. Padahal, anak itu hanya menumpang lewat saja, karena jalanan itu jalan terdekat menuju rumahnya setelah seharian berjualan koran. Anto dan Daffa terdiam. Kedunya merasa iba. Jalan raya yang merupakan jalan satu-satunya menuju belakang rumah mereka tak hanya jauh, tapi juga menanjak. Mereka yang punya sepasang kaki normal saja pasti ngos-ngosan kalau harus mendaki tanjakkan itu. Anto kemudian memberikan anak itu sepasang sandal jepit yang berwarna sama tetapi berbeda ukuran. Karena masing-masing sebelah sandal itu adalah milik Anto dan Daffa.

Kisah di atas, sungguh menarik untuk membuat anak-anak bisa saling tolong-menolong. Selain itu juga, mengajarkan kepada anak-anak agar tak saling menghina terhadap kawan yang memiliki kekurangan fisik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Menanamkan Nilai Akhlak Melalui Cerita"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel