Cerpen : Sepatu Baru Untuk Tania




Sudah tiga hari Tania murung. Tak pernah keluar kamar. Juga tak mau makan. Ia lebih senang mengunci diri di dalam kamar. Berteman dengan kesunyian. Sikapanya berubah. Ia selalu menangis di dalam kamar dan tak mau keluar.

Ya, sejak kejadian tiga hari yang lalu, ia lebih banyak menyendiri. Tak seperti Tania yang biasa, yang selalu periang. “Ma, aku ingin sepatu baru,” minta Tania lirih. Entah aku harus jawab apa kepadanya. Mendengar permintaanya saja, sudah membuat dadaku sesak. Napasku terasa berat.

Sejak saat itu, Tania jadi pemurung. Tak lagi kulihat keriangannya seusai pulang sekolah. Tak lagi kulihat antusiasnya saat menceritakan teman-temannya di sekolah. Gadis berusia 8 tahun itu lebih suka mengunci diri di kamarnya.

“Ma, aku mau sepatu baru. Sepatuku sudah robek di sana-sini,” pinta Tania sabil menahan sesuatu yang memenuhi rongga dadanya.

“Iya, Nak, nanti kalau Mama sudah punya uang kita beli ya di pasar,” jawabku menghiburnya.

“Serius Ma?!,” Tanya Tania setengah penasaran

“Iya,” kilahku

Tapi sampai detik ini, Tania belum mendapatkan sepatu seperti yang mamanya janjikan. Bukan aku tak mau membelikannya, tapi karena kehidupan kami yang serba kekurangan membuat keinginan itu urung terwujud.

Sudah tiga hari Tania berdiam diri di kamarnya. Matanya bengkak. Rambutnya berantakan seperti orang habis bertengkar. Jambak-jambakan. Dan sudah tiga hari pula ia tidak masuk sekolah. Bukan, karena ia sakit. Melainkan karena ia tak tahan dengan ocehan teman-temannya yang selalu mengejeknya dengan sepatu butut miliknya.

Ejekan teman-temannya telah merampas keceriaanya. Sungguh, keadaan yang Tania tak pernah harapkan kehadirannya. Ia lebih memilih di rumah. Menyendiri, dalam kegamangan.

“Tania, ayo makan Nak, nanti kamu sakit,” teriak seorang perempuan dari luar kamar. Tania tak menjawab. Ia hanya diam dan membisu di dalam kamar. Entah, dengan cara apa lagi aku bisa membujuk Tania agar ia kembali periang seperti dulu.

Aku jadi teringat akan kejadian tempo hari saat ia meminta di belikan sepatu. “Tapi, dengan cara apa aku bisa membelinya?” Tanyaku dalam hati. Aku ini hanya seorang janda, yang ditinggal oleh lelaki tak bertanggung jawab.

Bertahun-tahun aku merawat dan membesarkan Tania dengan tanganku sendiri. Bahkan, lelaki itu tak pernah tahu bagaimana rupa bidadarinya yang kini mulai tumbuh remaja.

Untuklah, Tania tak pernah mempermasalahkan di mana keberadaan lelaki itu. Setiap ia bertanya tentang lelaki itu, aku hanya menjawab, “Papamu ada di tempat yang jauh..” ya, ia berada di tempat yang jauh. Yang tak pernah ku ketahui rimbanya.

Sejak saat itu, aku tak ingin lagi mengingatnya. Lelaki yang telah merenggut kehidupanku dengan begitu sadisnya. Dan meninggalkan lubang yang begitu dalam dan gelap. Hingga dalam lubang itu aku terkurung bertahun-tahun.

“Lantas, ke manakah aku harus pergi mendapatkan uang? Agar aku bisa membeli sepatu untuk Tania,” gumamku dalam hati.

Dadaku seakan pengap, napasku berat. Seperti ada sesuatu yang ingin menyembul keluar. Tanpa sadar, ada bulir air yang membasahi pipiku. Air yang berasal dari sungai yang tenang.

Aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Ketika mendapati ada sepatu baru di hadapanku. Sepatu ini untuk Tania. Sepatu pemberian salah satu guru Tania di sekolah. Guru tersebut iba melihat Tania tak masuk sekolah karena sepatu bututnya. Tania termasuk anak yang berprestasi. Oleh karena itu, gurunya membelikannya sepatu sebagai hadiah atas prestasinya. Aku bergegas menuju kamar Tania, dan berkata, “Ini sepatu baru untukmu Nak,” sambil memeluk erat Tania.

Cerpen ini telah di muat di Koran Pantura Edisi Rabu, 13 April 2016

Berlangganan update artikel terbaru via email:

6 Komentar untuk "Cerpen : Sepatu Baru Untuk Tania"

  1. Keren mas, apalagi bisa yang paling atas posisi tulisannya. :)

    BalasHapus
  2. ada beberapa kalimat yang membuat pov-nya jadi rancu, hehe.
    Tapi sampai detik ini, Tania belum mendapatkan sepatu seperti yang mamanya janjikan.
    .....teriak seorang perempuan dari luar kamar.
    tapi tetep keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sebelumnya Mas. Kalau boleh tahu di kalimat yang mana Mas? Maklum masih pemula Mas. Hehe.... :) : D

      Hapus
  3. keren sobat, tapi sedikit masukka urutin aja konfliknya dari yg klimaks ke anti klimaksnya. Jangan memutar konflik nanti sipembaca bakalan pertanya tanya tentang kejadian itu. Maaf ya komen ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih masukannya Sob, akan sangat berguna demi kemajuan ke depannya :)

      Hapus

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel