Suka Duka Mahasiswa

Suka Duka Mahasiswa merupakan resensi atas buku Mendayung Impian Menuju Samudera Bahagia karya Wahyu Wibowo dan Ales Nurdiyansyah terbitan Pustaka Senja di muat oleh Kabar Madura.
Gambar: Kabar Madura

Di muat Kabar Madura Pada 18 November 2016




Judul : Mendayung Impian Menuju Samudera Bahagia

Penulis : Wahyu Wibowo dan Ales Nurdiyansyah

Penerbit : Pustaka Senja

Tahun Terbit : April, 2016

Tebal : 172 hal

Isbn : 978-602-7731-55-4

Menjadi mahasiswa mungkin idaman setiap muda-mudi Indonesia. Banyak alibi yang melatarbelakangi hal itu. Mulai dari agar mudah diterima kerja diperusahaan, bisa mendapatkan gaji yang sesuai, menambah dan mendalami pengetahuan, atau alasan lainnya yang sering kali kita dengar.

Mahasiswa mungkin merupakan kata yang istimewa. Sehingga ia selalu didamba dan dipuja. Ya, seorang mahasiswa dianggap sosok yang terpandang karena memiliki intelektualitas yang tinggi. Tak ayal, banyak yang kepincut karenanya.

Mendayung Impian Menuju Samudera Bahagia merupakan sebuah perenungan dari dua penulis mengenai suka duka menjadi mahasiswa. Buku ini ditulis oleh Wahyu Wibowo dan Ales Nurdiyansyah. Di dalamnya dipaparkan bagaimana perjuangan sesosok manusia yang ingin berkuliah tetapi terbentur oleh rupiah. Alhasil, harapan itu sirna. Buku dengan ketebalan 172 ini, berisi kisah inspiratif dua tokoh yang berbeda, yang ingin tetap kuliah tapi tiada rupiah. Sehingga mereka harus berjibaku agar keinginannya dapat terwujud.

Dalam bab pertama, penulis memaparkan bagaimana kata “mahasiswa” itu istimewa. Kata itu selalu didamba, diagungkan, bahkan selalu mengisi bibir-bibir media, pemerintah, pejabat, akademisi, ibu-bapak rumah tangga, petani, tukang becak, pemulung, atau bibir siapa saja dengan tidak pernah henti-hentinya. Mahasiswa seolah sebagai makhluk paling istimewa, didamba, dicinta, dan jauh dari kata menderita. (hal 3)

Keinginan berstatus mahasiswa bukanlah sekadar formalitas belaka. Orang-orang yang menyandang gelar itu tentu akan menanggung beban moral dan tugas yang banyak (hal 9). Bagi orang yang berasal dari daerah pinggiran memiliki gelar “mahasiswa” mungkin merupakan sebuah mimpi yang besar. Hal inilah yang juga dirasakan Alan. Lelaki pinggiran asal Provinsi Sumatera Selatan ini memiliki keinginan untuk berstatus “maha” seperti kebanyakan orang yang telah menamatkan SMA.

Mungkin mimpi itu terlalu tinggi bagi Alan yang terlahir jauh dari kata mewah. Tapi, bukan mustahil bukan? Asal diri sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin hal itu akan terwujud di kemudian hari. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Pantang mundur sebelum bertanding.

Ketiadaan rupiah, acap kali menjadi faktor utama seseorang bisa mengenyam pendidikan. Banyak anak usia sekolah yang harus menderma usia dengan bekerja. Agar dapur kembali ngebul. Demikian juga dengan Alan, keinginan untuk berkuliah harus disingkirkan terlebih dahulu. Demi membantu perekonomian keluarga. Memang, orangtua tidak pernah menyuruhnya bekerja. Tapi keadaan, menjepitnya harus berpikir melangkahkan kaki seribu kali. Dengan tanpa rasa malu ia berjualan es balon keliling kampung yang cukup luas. (hal 13-14)

Bila hasil berjuaan es tidak menguntungkan, Alan bersedia melakukan apa saja. Dengan catatan dapat menghasilkan selembar rupiah. Ia harus merelakan masa kanak-kanaknya waktu itu, demi keluarga. Hal ini dibuktikan dengan membiarkan tubuh mungilnya ditimpa beban berat. Ia terpaksa harus bergabung mengangkut pasir demi lembaran uang. (hal 14)

Bila kita cermati, ketiadaan ekonomi acap kali membuat anak-anak putus sekolah. Alih-alih mendalami pengetahuan berganti dengan bekerja banting tulang. Hal ini sudah sering kali terjadi di negeri ini. Keadaan yang sungguh miris! Buku ini menyuguhkan realita yang dekat dengan kehidupan.

Bahwa orang-orang pinggiran macam Alan, harus mengubur harapannya berpendidikan tinggi. Jika sudah menyangkut masalah kantong, tidak ada yang bisa membantahnya. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari buku ini, yaitu Alan tetap bermimpi dan terus berjuang mewujudkannya tanpa henti.

Berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini, Alan yang tak pernah masuk tiga besar di SMA, berhasil menggondol juara umum saat ujian. Tentu hal itu membuat semua orang tercengang sekaligus haru akan perjuangannya. Siapa sangka, Alan si anak pinggiran berhasil menjatuhkan langganan juara umum dikelasnya. Mimpi menyandang gelar “maha” pun terwujud. (hal 19-20)

Tentu tokoh Alan dapat menjadi contoh dan panutan siapa saja di dunia ini, bahwa memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan tiada henti untuk mewujudkan mimpi. Sebuah batu yang keras pun dapat hancur karena setetes air yang terus menelusup kedalamnya. Sehingga membuat batu makin terkikis dan akhirnya pun lebur.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

6 Komentar untuk "Suka Duka Mahasiswa"

  1. kadang rindu juga dengan status mahasiswa dengan duka dukanya

    BalasHapus
  2. Penuh perjuangan. Tapi waktu saya kuliah dulu nyari kerjaan susah meskipun pinginnya kerja sambil kuliah soalnya kadang2 ortu telat ngirim uang he he he......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. memang mencari pekerjaan saat ini terasa sangat sulit Mas, karena persaingan yang semakin ketat juga minimnya lapangan pekerjaan. :)

      Hapus
  3. wah ini ya suka duka nya jadi mahasiswa, soal nya saja belum pernah jadi mahasiswa. makasih info nya gan

    BalasHapus

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel