Cerpen : Jangan Terulang Lagi




“Akhir-akhir ini banyak kasus pemerkosaan, Pak,” kata Bu Inem.

“Iya, ya Bu, Bapak nggak habis pikir dengan para pelaku kok tega-teganya memperkosa anak yang masih belia. Bahkan, sampai dibunuh lagi. benar-benar sudah akhir zaman,” sahut Pak Gatot.

“Bener tuh Pak, seharusnya pelakunya dihukum mati biar tahu rasa! Emang di kira anak ayam apa main bunuh-bunuh aja!” jawab Bu Inem dengan nada agak tinggi.

“Ya harus itu Bu, kalau bisa dihukum pancung sekalian biar mereka kapok,” seru Pak Gatot.

Suami-istri itu masih terlibat perbincangan yang seru di ruang tamu. Tanpa mereka sadari, Anita belum juga pulang. Padahal, jam sekolah sudah berakhir sejak dua jam lalu.

“Anita kok belum juga pulang ya Pak, sudah sore begini,” kata Bu Inem sambil memandang ke arah jam.

“Mungkin belajar kelompok bersama temannya, Bu,” jawab Pak Gatot santai.

Bu Inem tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang cemas, melihat anak perempuan satu-satunya yang ia miliki belum juga pulang. Ia khawatir, kalau-kalau sesuatu terjadi pada anak gadisnya itu. Belum lagi, saat ini sedang marak kasus pemerkosaan anak di bawah umur.

Pikiran Bu Inem semakin buncah, bayang-bayang kasus pemerkosaan berkelebat di kepalanya. Cepat-cepat ia menepisnya. Berharap, tidak terjadi sesuatu pada Anita. Namun, pikiran itu terus menghantui perempuan setengah baya yang sedari tadi duduk termangu di ruang tamu.

Perempuan itu membolak-balik buku telepon, berharap ada nomor teman anaknya yang bisa di hubungi. Tapi, tak satu pun ia mendapat petunjuk perihal keberadaan anak gadisnya itu. Buku telepon itu hanya berisi nomor-nomor sanak keluarga saja tak ada nomor lain. Pikirannya semakin keruh. Napasnya berat. Air embun tanpa sadar menetes dari kelopak matanya. Sambil sesekali bergumam, “Anita, kamu dimana, Nak,”

***

Sudah dua hari Anita belum juga pulang.

Pak Gatot sudah bertanya kepada pihak sekolah, namun mereka menjawab tidak tahu. Anita sudah pulang sejak jam sekolah usai dua hari lalu. Begitu juga dengan teman anak gadisnya itu, tak ada yang tahu perihal keberadaan Anita.

Tubuhnya mendadak lemas, tak dapat di gerakan. Rasanya, tak percaya kalau anak perempuannya saat ini telah hilang. Entah, apa yang harus di katakan Pak Gatot kepada Bu Inem nanti.

Bu Inem masih terisak di kamarnya, sambil memandangi foto anak perempuan yang ada di tangannya. Ya, itu foto Anita. Anak semata wayangnya.

“Apa kata sekolah, Pak.”

Hening.

“Pak...”

“Tidak ada yang tahu, Bu,” jawab Pak Gatot lemas

Jawaban itu bagai petir yang menyambar telinganya.

Ke mana perginya anak yang di cintainya itu. Bu Inem semakin tersedu-sedu. Ia telah kehilangan cahaya hidupnya. Cahaya yang menerangi setiap langkahnya.

Sekarang semua itu merubah menjadi gelap dan sunyi. Segelap hatinya saat ini. Benar-benar gelap. Tak satu pun dapat di lihatnya.

“Bu...” seru Pak Gatot.

“Iya, Pak,” jawabnya lemas.

“Bapak sudah lapor polisi. Semoga polisi cepat menemukan anak kita.”

Tak ada jawaban dari Bu Inem. Kepalanya masih tertunduk. Dan diam seribu bahasa. Ia tak sanggup untuk memungut keping-keping hati yang telah berserakan. Itu terasa sakit sekali. Sakitnya hingga merasuk ke tulang-belulang Bu Inem.

Lagi-lagi pikiran itu muncul. Di saat seperti ini pikiran itu selalu datang menghampiri. Semakin menambah kepedihan di hati perempuan setengah baya itu. Cepat-cepat ia menyapu pikiran itu dari benaknya.

Ia mencoba menyalakan tv. Berharap, ada tayangan yang bisa menghiburnya. Tak ada yang seru. Membosankan. Begitu gumamnya. Tapi, ada satu tayangan yang membuat pandangannya tak bergeming.

Tayangan yang memberitakan kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh lima pelaku. Korbannya, remaja 16 tahun. Dengan rok sepanjang mata kaki. Dan kain putih yang membalut kepalanya. Tubunya terkulai di sebuah gubuk kosong tak bertuan mata Bu Inem menangkap sesosok bayangan di tayangan itu.

Itu...

Itu...

Itu.. Anita..

Bu Inem berteriak histeris.

“Kenapa Bu?” tanya Pak Gatot.

“Tidak Pak, hanya mimpi buruk,” jawabnya sambil mengatur napasnya, “Anita mana Pak?”

“Ada tuh di kamarnya.”

Syukurlah, Cuma mimpi. Gumam perempuan setengah baya itu dalam hati. Mereka berdua lalu melanjutkan tidurnya kembali.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Jangan Terulang Lagi"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel