Cerpen : Bakul Bu Inah


Pagi begitu cerah. Secerah wajah perempuan itu. Sosok yang selalu melintas di depan rumah Eman sambil membawa bakul sederhana miliknya. Bakul itu berisi beraneka ragam makanan seperti donat, pisang goremg, onde-onde, sampai nasi uduk juga ada.

Menu sarapan pagi yang biasa di jajakannya setiap pagi. Berkeliling dari satu rumah menuju ke rumah yang lain. Tak pernah ia lihat wajah perempuan itu terlihat mendung meski dagangannya tak laku semua.

Bu Inah, biasa perempuan itu dipanggil. Selalu ramah dan tersenyum kepada para pelanggannya. Eman salah satu pelanggan setianya. Menunggu kedatangannya di teras depan rumah. Biasanya, pukul 06.30 pagi ia tepat melintas di depan rumah pemuda itu.

Kue..

Kue.. kue..!

Kue.. 

Kue.. kue..!

Teriak seorang perempuan setengah abad dari kejauhan. Itu pasti dia, pikirnya cepat. Ya, Bu Inah selalu memanggil-manggil pelanggannya dengan suara khasnya.

“Bu, kue.. bu,” teriaknya sambil melambaikan tangan

Mendengar teriakkan Eman, perempuan setengah abad ini langsung datang menghampiri.

“Mau kue apa Mas?” tanyanya sambil menurunkan bakul dari gendongannya

“Biasa, Bu, pisang goreng,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum

Dengan sigap, Bu Inah memasukan beberapa potong pisang goreng yang telah pemuda itu pesan kedalam plastik putih. Ya, Bu Inah memang cekatan sekali. Mungkin, karena ini sudah menjadi kebiasaannya setiap hari jadi mudah saja baginya.

Tak lama, para tetangga sudah berhamburan mengerumuninya. Perempuan itu selalu di tunggu bak artis terkenal yang akan perform. Semua mengerumuninya hanya untuk membeli makanan yang di jajakannya untuk sekadar mengganjal perut di waktu pagi.

Ada yang membeli donat untuk anaknya, ada juga yang membeli nasi uduk untuk sarapan pagi suaminya. Begitulah, rutinitas perempuan setengah abad setiap pagi.

***

Terik matahari kian menyengat. Membakar tubuh perempuan itu. Namun, ia masih terus berjalan menjajakan dagangannya yang tak kunjung laku. Entah mengapa pelanggan setianya satu per satu meninggalkannya.

Begitu juga dengan Eman, pemuda yang selalu membeli pisang goreng buatannya. Tapi, tidak dengan hari ini. Semua pelanggan setianya pergi begitu saja. Perempuan itu menyeka peluh yang membasahi tubuhnya.

Ia terus berjalan berkeliling kampung, berharap ada seseorang yang mau membeli dagangannya. Namun, usahanya sia-sia. Tak ada satu pun orang yang mau membeli dagangannya.

Perempuan itu terduduk di trotoar. Kepalanya tertunduk. Entah apa yang membuat makanannya tak digemari seperti dulu. Pikirannya keruh. Apa yang salah dengan makanan ini? Gumamnya.

Tanpa sadar, air embun turun dari matanya. Entah, kemana lagi ia harus berjalan, kedua kakinya sungguh sudah terasa letih. Tapi, dagangan ini harus habis. Harus! Jerit perempuan itu dalam hatinya.

Bagaimana aku bisa membayar sekolah anakku?

Sampai detik ini makanan itu belum juga laku.

Perempuan itu masih terduduk di trotoar. Ia tak berani mendongakkan kepalanya. Hanya untuk sekadar memandang langit. Tidak. Tidak. Itu sama saja membuat hatinya semakin sakit. Lantas ke mana makanan ini aku jajakan? Tanyanya pada hati yang gerimis.

***

“Bagaimana jualannya hari ini Bu?” tanya suaminya

Hening. Tak ada jawaban.

“Begitulah Pak, hari ini tidak ada yang laku,” jawabnya pelan.

Pak Beni, suaminya, memperhatikan wajah istrinya yang tampak lusuh itu. Tidak biasanya istrinya seperti ini. Perempuan itu selalu terlihat ceria dan bersemangat saat berjualan. Begitu juga saat dagangannya tak laku semua. Ia masih bisa tersenyum. Katanya, “Rezeki yang sedikit harus di syukuri.”

Tapi tidak dengan hari ini. Wajahnya tampak lusuh dan muram. Seperti memendam sesuatu dalam hatinya. Entah, sesuatu apa itu. Yang jelas, wajah istrinya kini tak seceria biasanya.

Bu Inah, menarik napas pendek. Mencoba mengeluarkannya pelan-pelan bersama sesuatu yang membuat dadanya sesak sejak tadi. Entah, mengapa hari ini begitu buruk untuknya. Buruk. Sangat buruk. Bahkan, untuk mengenang hari ini saja, rasanya perempuan itu tak sudi. Apalagi kehadirannya. Sungguh tak diinginkan.

Mengapa hari ini bisa terjadi? Hari di mana perempua itu tak bisa menjual satu pun dagangannya. Kenapa pula pelanggan setianya pergi? Apa yang salah dengan makanan ini? Perempuan itu masih terus bertanya-tanya.

Pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawabannya.

“Sing sabar Bu,” Pak Beni mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus lembut pundaknya.

Bu Inah terdiam. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulunya. Ia diam seribu bahasa. Sesekali ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Air matanya jatuh beriringan suara isaknya. Ia menangis tersedu-sedu dalam pangkuan suaminya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Bakul Bu Inah"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel