Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membedah Penyebab Writers Block


penyebab writer's block

Beberapa waktu lalu, terjadi diskusi yang sengit dan cukup alot antara saya dan guru menulis saya. Semua bermula dari grup kepenulisan yang digawangi oleh beliau, ada salah satu anggota yang bertanya tentang cara mengatasi writers block. 

“Idenya sering mentok di jalan. Bagaimana untuk menyiasati supaya idenya tetap mengalir?” tanya Marsiti, salah satu anggota. 

Saya langsung menanggapi dengan cepat pertanyaan itu. 

“Saya ada bahas ini di blog,” balas saya sambil memberikan emot menutup mulut seraya nyengir. 

“Mentok itu mitos. Hanya jenuh dan kurang baca,” lanjut saya lagi. 

Dari sini, mulailah chat itu terus berlanjut setelah ada yang setuju dengan pendapat yang saya berikan. 

“Sepakat,” ujar Yusriatun. 

“Hasil pengamatan pribadi,” jawab saya. 

“Karena bacaan bisa buat pikiran terbuka dengan banyak hal,” balas Yusriatun. 

“Kalau ide tidak mungkin mentok. Karena sejak belum menulispun ide itu sudah ada lengkap. Yang suka mentok itu penyampaiannya,” balas Kang Acil, menanggapi pertanyaan Marsiti. 

Sampai di sini, saya masih setuju dengan pendapat beliau. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga ide itu sudah lengkap sejak awal. Meskipun kita belum menulis sekalipun. Pun, benar pula cara penyampaiannya yang mungkin menyebabkan ide itu macet atau mentok. Setuju? 

Simplenya gini, saat kita mencoba menyampaikan sesuatu, tetapi cara kita menyampaikannya melebihi ekspektasi, mungkin itulah yang mengakibatkan kita jadi mentok. Maka, salah satu tips menulis yang paling mudah adalah menulislah apa adanya. Biarkan tulisan itu mengalir tanpa beban juga tanpa paksaan. 

Jika kita menulis karena terpaksa dan merasa terbebani, maka hasilnya akan kurang bagus. Pun, akan terlihat kaku dan cenderung dipaksakan. Bukan, begitu? Sebenarnya, masalah writer’s block ini bisa diatasi. Jangan sampai, writer’s block justru membuat kita jadi berhenti menulis. Jangan! 

“Nah iya saya sering gini, gara-gara kurang bacaan,” Yusriatun menanggapi balasan Kang Acil. 

“Yang begini namanya writer’s block,” lanjut Kang Acil masih menanggapi pertanyaan Marsiti. 

“Saya juga sering kayak gitu. Mandek di tengah jalan. Tapi setelah itu muncul lagi, tapi beda ide. Ini gimana caranya biar ndak kayak gitu. Ndak pindah-pindah idenya?” tanya Nur Azizah Perwitasari. 

“Kalau sering begini salah satu caranya Mbak buat dulu outline atau sinopsis sebagai pemandu arah,” jawab Kang Acil. 

“Ini dia, saya kurang bacaan. Harus banyak-banyak membaca. Pantesan sering berhenti di jalan. Padahal sudah dibuatkan outline,” ujar Marsiti menanggapi balasan saya atas pertanyaannya. 

“Mengalir saja kata @Kang Acil. Spontanitas,” jawab saya. 

Kang Acil sontak langsung berkomentar, “Soal writer’s block, tidak selalu karena kurang bacaan. Karena meskipun kita tak pernah membaca sekalipun , kata-kata selalu ada dalam otak. Hanya saja mungkin kita terlalu memaksakan kata atau kalimat yang belum kita punya karena ingin dikatakan penulis keren.” 

Nah, di sinilah, awal mula saya tidak sependapat, ditambah lagi saya tipikal orang yang tidak melulu akan berkata ya. Jika tidak sependapat, saya akan menolaknya dan memberikan argumentasi saya. Meskipun, terhadap guru menulis saya sekalipun. 

“Menurut saya tidak juga Mas. Lebih kepada kehabisan kata-kata sehingga yang dibahas berputar di situ saja, nggak pindah-pindah,” saya mencoba membantah. 

“Bacaan itu menajamkan intuisi, memperkaya wawasan, dan menemukan diksi atau pilihan kata. Tapi bukan berarti dalam kepala kita tak ada ilmu kan? Meskipun cupet pasti ada laaaah…,” sahut Kang Acil. 

“Kalau ini setuju.” 

“Kok kehabisan kata-kata sih? Apakah selama ini sejak kita mampu bicara kita pernah kehabisan kata-kata? Ingat! Kata itu terbentuk dari 23 huruf, lalu menjadi kata dasar, lalu mnjadi kata sifat, kata kerja, dan kata benda. Tak dipelajari pun itu sudah ada dalam kepala karena kebiasaan kita sehari-hari. Lalu apa yang membuat writer’s block? Bukan kehabisan kata-kata, tapi ekspetasimu melebihi pengetahuanmu. Dan yang paling utama adalah terbebani saat menulis,” Kang Acil membantah argumen saya. 

“Mungkin demikian Mas. Tapi menurut saya writer’s block itu efek jenuh karena melakukan hal yang sama berulang-ulang. Ini menurut saya Mas,” saya mencoba beragumen lagi. 

“Melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Loh, menuliskan memang begitu? Mengajar juga begitu, ojek juga begitu. Jadi pilihan kalimatmu kurang tepat itu. Penyebab writer's block:

1. Kurang memahami tema yang sedang dikerjakan.
2. Lelah fisik.
3. Terbebani saat menulis. ” 

“Ya mungkin kurang tepat Mas, tapi dalam pandangan saya ada kalanya manusia merasa jenuh oleh suatu hal. Maaf jika kita berseberangan.” 

“Jenuh karena melakukan sesuatu secara berulang selalu terjadi. Tapi itu bukan penyebab writer’s block. Karena jika melakukan sesuatu secara berulang dijadikan alasan writer’s block, tentu yang pertama berhenti jadi penulis adalah Kang Abik, Tere Liye, Andrea Hirata, karena mereka tiap hari selalu mengulang kegitan menulis.” 

“Benar juga Mas. Tapi bukankah kejenuhan bisa menghambat aktivitas dan kreativitas menulis?” 

“Ini benar jika konteksnya secara umum. Bukan dalam bidang menulis saja.” 

“Nah, apakah tidak bisa disebut sebagai penyebab Mas?” 

“Sebab apa?” 

“Writer’s block.” 

“Loh kan sudah saya jawab. Pengulangan pekerjaan yang diulang-ulang bukan penyebab writer’s block. Kalau ‘pekerjaan’, kan memang menulis itu tiap hari memang begitu; ngetik, ngedit. Tiap hari itu.” 

“Tapi kan Mas, lantaran jenuh jadi menghambat aktivitas dan kreativitas menulis. Mengapa tak bisa dikatakan sebagai bukan penyebab?” 

“Menghambat aktivitas itu sejak awal. Sedang writer’s block itu kondisi ketika sedang melakukan. Beda loh, writer’s block dan memang jenuh lalu malas menulis. Kamu bedakan dulu deh: aktivitas, kreativitas, dan writer’s block.” 

“Mungkin berbeda Mas, tapi saya masih belum puas dengan jawabannya.” 

“Oke. Apa definisi aktivitas menurutmu dan apa definisi writer’s block?” 

“Aktivitas = kegiatan atau pekerjaan. Writer’s block = kondisi di mana penulis mentok menyampaikan gagasannya.” 

“Nah, sekarang ‘menghambat’ apa?” 

“Menghambat = sesuatu yang menghalangi tercapainya tujuan.” 

Jenuh melakukan aktivitas yang berulang-ulang, apakah itu terjadi sejak awal, atau terjadi ketika sedang melakukan?” 

“Bisa sejak awal, bisa di tengah-tengah, atau akhir.” 

“Nggak bisa dong. Jenuh melakukan sesuatu secara berulang-ulang itu memang sudah direncanakan sebelum melakukan. Mau nulis, ah bosan menulis melulu. Sedang writer’s block itu terjadi tiba-tiba.” 

“Apakah jenuh tak bisa tiba-tiba datangnya Mas? Bisa saja, bukan?” 

“Loh, katanya tadi ‘melakukan pekerjaan secara berulang-ulang sebabnya jenuh’ masa dibilang tiba-tiba. Tiba-tiba itu sedang lari, tiba-tiba berhenti. Kalau jenuh sejak awal memang nggak mau berlari karena sudah jenuh sejak kemarin-kemarin.” 

“Maksud saya jenuh juga bisa tiba-tiba Mas.” 

“Nggak bisa. Jenuh itu ada prosesnya. Tidak bisa tiba-tiba. Tapi karena kita sedang bahas writer’s block yang definnisinya ‘tiba-tiba. Blank ditengah proses menulis’ tentu beda dengan yang sejak awal malas menulis karena jenuh tadi.” 

“Tapi menurut saya bisa Mas.” 

“Alasannya? Contohnya?” 

“Misal ketika menulis, tiba-tiba jenuh lalu berhenti.” 

“Loh, itu kan namanya writer’s block.” 

“Iya, sebabnya jenuh Mas, maka writer’s block.” 

“Jenuh karena apa?” 

“Karena menulis Mas.” 

Pada akhirnya kita berdua tetap berbeda jalur. Masing-masing begitu kuat memegang argumennya. Tentu bukan tanpa alasan saya mengatakan jenuh menjadi penyebab utama writer’s block. Sebab, saat seseorang merasa jenuh, kondisi moodnya juga ikut terpengaruhi. Mood yang labil ini akan mengganggu pikiran lalu pada akhirnya menimbulkan rasa malas dan menyebabkan berhenti menulis.
Toni Al-Munawwar
Toni Al-Munawwar Toni Al-Munawwar adalah seorang Penulis dan Blogger. Memulai menekuni dunia menulis dari blog pribadinya. Untuk info lebih lanjut, silakan baca halaman "Profil Penulis" yang ada dalam blog ini. Terima kasih.

Posting Komentar untuk "Membedah Penyebab Writers Block"