Resensi Buku: Ahed Tamimi: Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel


Resensi Buku: Ahed Tamimi: Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel
Dok. Pribadi

Perjuangan Gadis Remaja Melawan Tirani Israel


Judul Buku : Ahed Tamimi: Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel

Penulis : Manal Tamimi, Paul Heron, Paul Morris, dan Peter Lahti

Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno

Terbit : Oktober, 2018

Tebal : 248 hlm

Isbn : 978-602-441-084-1

Penindasan dan kekejaman tentara Israel terhadap Palestina, rasanya sudah menjadi rahasia umum. Mereka seakan tak punya hati, memberondong orang yang tak berdaya dengan peluru. Sungguh peristiwa yang teramat miris dan menuai kecaman dunia.

Seorang gadis remaja asal Palestina mendadak viral di dunia maya, berkat aksinya yang gagah berani menampar salah satu wajah tentara Israel. Gadis itu bernama Ahed Tamimi. Sebelum insiden ini terjadi, sepupu kecil Ahed, Mohammad Tamimi, baru saja di tembak di kepala dari jarak dekat oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Cederanya cukup parah, hingga dia harus ditempatkan dalam keadaan koma untuk pendarahannya. Hidupnya mungkin tidak akan lama.

Pada hari itu, dengan nyawa Mohammad berada di ujung tanduk, beberapa tentara IDF ingin berlindung di jalanan mobil rumah Ahed, agar mendapat posisi yang lebih baik untuk menembaki beberapa anak muda lagi di jalanan. Ahed dan Nour punya gagasan lain, mereka keluar untuk memberitahu tentara-tentara itu bahwa tidak ada tempat berlindung yang aman bagi mereka di sana. Tentara-tentara itu tidak boleh bersembunyi di balik dinding dan menembak. Ahed memberikan tamparan yang kemudian bergaung di seluruh dunia (hlm 29).

Akibat insiden penamparan itu, IDF datang kembali pada tengah malam 19 Desember, aekitar pukul 3 pagi. Ahed dibawa pergi ke sebuah penjara militer Israel. Penahanan Ahed di luar tanah air, berarti dia ditahan secara ilegal menurut peraturan Konvensi Jenewa. Secara keseluruhan, dia menghadapi serangkaian panjang dakwaan melakukan kekeasan dan penindasan, yang mencakup periode hingga dua puluh bulan ke belakang. Ibu Ahed, Nariman, pergi ke kantor polisi keesokan paginya untuk memprotes penangkapan sang putri, tetapi tidak diizinkan pulang. Dia juga didakwa dan dipenjarakan hingga sidang pengadilan yang akan ditangguhkan dan ditangguhkan. Nour ditangkap pada malam setelah penangkapan Ahed, dan dia juga akan didakwa (hlm 30).

Ketika Ahed muncul di pengadilan militer Ofer, Yerusalem, pada 1 Januari 2018, dia tersenyum dengan berani, memberikan kekuatan kepada para pendukung dan keluarganya, tetapi juga memberikan gambaran yang ditangkap oleh banyak fotografer media. Gerakan rakyat Palestina mendapatkan simbol perjuangan yang muda, hidup, dan bersemangat dalam diri Ahed. Rambut pirang panjang Ahed, yang mungkin mirip surai, bahkan membuat beberapa komentator membandingkan gadis itu dengan singa pemberani. Sebuah gambaran dahsyat akan menyebar, menyangkut seorang tahanan politik muda yang garang-gadis yang melawan (hlm 30-31).

Ahed menjalani sesi-sesi investigasi atau interogasi maraton yang berlangsung mulai pukul 1 siang sampai pukul 00.30 pagi, dengan seorang perwira dari kepolisian dan seorang perwira dari ketentaraan, secara bergantian. Dia tidak diizinkan berganti pakaian pada hari-hari pertama penahanannya, dan ketika muncul di pengadilan, dia diborgol dan di rantai pergelangan kakinya. Awalnya dia dibawa ke penjara Al-Moscobiyeh di Yerusalem-dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Kompleks Rusia. Walaupun Ahed berhak untuk tetap diam, dia diancam penangkapan massal anggota-anggota keluarga besarnya jika tidak bicara (hlm 36).

Pada 9 Januari 2018, Mohammad Bilal Tamimi (sepupu Ahed yang lain), berusia 19 tahun juga ditangkap. Dia pun diculik dari rumah di Nabi Saleh pada tengah malam. Penangkapan keluarga besar Tamimi terus berlanjut, berpuncak dengan sepuluh penangkapan pada malam 26 Februari 2018, ketika lima anak dibawah umur ditangkap. Termasuk Mohammad yang berusia 15 tahun, yang penembakan wajah dan cedera kepala parahnya telah memicu insiden penamparan. Penangkapan Mohammad sangat keji, karena seharusnya dia beristirahat di rumah selama menunggu pembedahan restoratif tengkorak. Penangkapan-penangkapan ini juga dilakukan pada tengah malam-pratik yang sangat sewenang-wenang (hlm 36-37).

Bagi Ahed dan keluarganya, Tahun Baru 2018 hanya mendatangkan penangkapan, interogasi, dan kehadiran di pengadilan, sedangkan keadilan hanya dikenal lewat ketidakhadirannya. Permohonan agar Nariman dan Ahed dibebaskan dengan uang jaminan ditolak pada Januari, dan Ahed kemudian dipindahkan ke penjara Hasharon, lebih jauh di dalam Israel. Para penjaga penjara, penginterogasi, dan apa yang disebut hakim militer merasa senang jika bisa menangani Ahed di balik pintu tertutup, jauh dari mata dunia. Karena itulah, ketika gadis remaja ini ditangkap pada tengah malam di bulan Desember 2017, pihak IDF dengan cepat membungkusnya dengan selimut. Penyelubungan yang sama dilakukan dalam pengadilan militer hampir dua bulan kemudian, ketika pers diusir dan pengadilan tertutup dinyatakan, pada sidang pemeriksaan Ahed (13 Februari 2018), ketika sekali lagi pengadilannya ditangguhkan. Namun, banyak orang bisa tahu bahwa dia dan keluarganya diperlakukan secara keji, dan mereka merespon dengan protes kemarahan.

Hampir dua juta orang telah menandatangani petisi pembebasan Ahed dan anak-anak Palestina lainnya yang dikurung di penjara militer Israel. Banyak suara yang menuntut pembebasannya. Michael Lynk, pelapor khusus PBB menyangkut situasi hak asasi manusia di Palestina, menyatakan bahwa penahanan Ahed sebelum pengadilan di sebuah Penjara Militer Israel bertentangan dengan konvensi hak anak-yang diratifikasi oleh Israel sendiri (37-38).

Buku ini ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan keluarga Ahed. Selain itu, buku ini juga dilegkapi dengan foto-foto kejadian peristiwa, yang semakin meyakinkan kita akan kekejaman yang dilakukan tentara Israel.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

4 Komentar untuk "Resensi Buku: Ahed Tamimi: Gadis Palestina yang Melawan Tirani Israel"

  1. Semoga pejuang sejati yang bisa menembus dunia

    BalasHapus
  2. harusnya pihak israel diberikan sanksi karena melanggar peraturan Konvensi Jenewa, tapi dunia diam saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, tapi sepertinya mereka seakan buta, hukum berat sebelah atau timpang.

      Hapus

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel