Mengemas Isu Politik Dalam Novel Tanah Surga Merah

Mengemas Isu Politik Dalam Novel merupakan resensi buku atas Novel Tanah Surga Merah karya Arafat Nur terbitan Gramedia Pustaka Utama.
Hasil Scan Pribadi
Tanah Surga Merah-Arafat Nur



Judul Buku : Tanah Surga Merah

Penulis : Arafat Nur

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : 17 Januari, 2017

Tebal : 312 hal

Isbn : 978-602-03-3335-9

Arafat Nur adalah salah satu pemenang unggulan dalam sayembara novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2016 lalu. Arafat Nur adalah penulis prosa yang memulai bakatnya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan terakhir lebih terpumpun pada novel. Jika kita menilik bagian profil atau tentang penulis, maka akan didapati karya-karya dari Arafat Nur ini yang juga memenangkan penghargaan bergengsi. Seperti Lampuki (Serambi, 2011), merupakan novelnya yang terpilih sebagai pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Novel lainnya adalah Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Lalu ada Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. (hal 307)

Tidak mengherankan, jika penulis kembali dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan DKJ, menilik karya-kayanya yang juga selalu meraih penghargaan yang cukup luar biasa. Novel ini sangat berbeda dengan kebanyakan novel-novel yang menghiasi rak-rak toko buku. Jika kebanyakan novel bercerita tentang cinta dan seputar percintaan remaja, tidak dengan yang satu ini. Penulis dalam hal ini mengambil tema politik dalam latar novelnya, sebuah langkah yang cukup berani dan sekaligus menjadi penyegaran bagi pembaca sekalian. Tema yang diusung memang cukup berat, mengingat tidak cukup banyak cerita bergenre poilitik menghiasi toko buku.

Novel ini menceritakan tentang seorang tokoh juga sekaligus merangkap sebagai mantan gerilyawan yang kembali ke kampung halamannya setelah beberapa tahun menghilang. Berharap, sang tokoh bisa melupakan kepedihannya di tanah kelahirannya sendiri. Namun, negeri yang dulunya hijau dan tanahnya subur, kini telah banyak menyerap tumpahan darah. (hal 7)

Kepualangan sang tokoh ke kampung halaman, justru menjadi awal mula terjadinya konflik. Pembaca digiring lebih jauh untuk masuk dan hanyut ke dalam cerita. Penulis cukup apik dalam menyajikan cerita, meski tema yang digarap cukup membuat kening berkerut. Namun, pada saat membaca bab pertama dari novel ini, pembaca tidak akan mengerutkan kening. Sebaliknya, cerita yang disuguhkan cukup ringan dan mudah dicerna sehingga kita bisa masuk ke jalinan cerita yang telah disajikan.

Murad sang tokoh utama dalam cerita ini dahulunya adalah seorang pejuang kemerdekaan bersama tiga ratus lebih pejuang lain yang dipuja-puji, ditakuti, dan juga disegani banyak orang. Namun, hal itu telah berbalik tajam, dia bukan lagi seorang pahlawan melainkan penjahat buronan yang diintai polisi dan diburu orang-orang Partai Merah, yang menaruh dendam kesumat padanya. (hal 10)

Partai Merah sendiri adalah partai politik yang berkibar dengan tumpahan darah (hal 8), maka itu sebabnya penulis menjuluki partai ini dengan sebutan Partai Merah. Karena dituduh sebagai pembunuh, Murad sempat mengasingkan diri cukup lama di Riau sebelum akhirnya memutuskan pulang ke kampung halamannya. Dia juga beberapa kali menulis artikel tentang gagasan pentingnya mendirikan Partai Jingga. (hal 14)

Bukan tanpa alasan tokoh ini dianggap sebagai pembunuh, dia dituding telah melakukan penembakan terhadap Jumadil, anggota dewan dan tokoh penting Partai Merah (hal 24). Penembakan itu terjadi saat Jumadil si hidung belang, hendak memperkosa Fitri, gadis Buloh yang masih memiliki kekerabatan dengan Murad. Peristiwa itu terjadi menjelang Isya, saat kedua orangtua gadis itu tak ada di rumah. Begitu mendengar jeritan dari dalam, Murad langsung mendobrak pintu dan memuntahkan tembakan ke tubuh Jumadil yang menatapnya ketakutan. (hal 25)

“Inilah kampung halaman yang kurindukan, Aceh yang kusayang, telah banyak darah tumpah di sini, dan sepertinya akan terus tumpah. Dulu, tempat ini surga menawan yang menenangkan, memberikan berjuta harapan dan impian indah. Sekarang dan sampai kapan pun, rasanya aku tidak bisa meninggalkan tanah ini, yang kini tetap saja menjadi surga aneh bagiku; ya, tanah surga merah.” (hal 121)
Jangan Lupa Baca Ini Juga; Menelisik Awal Mula Penciptaan Muhammad

Tema politik memang amat jarang ditemui dalam sebuah novel. Sebab, penggarapannya yang memang tidak mudah. Tetapi, di sini Arafat mencoba keluar dari box genre yang sudah nangkring manja di toko buku yang hampir semua novel membahas masalah percintaan serta pernak-pernik kehidupan cinta ala remaja. Novel ini cukup ampuh menjadi penyegaran ditengah beragam kisah cinta yang sudah menumpuk dan membuat sebagian orang merasa jenuh.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mengemas Isu Politik Dalam Novel Tanah Surga Merah"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel