Cerpen: Tebing Kegagalan




Tidak mungkin! Tebing ini sangat tinggi. Bagaimana pemuda itu bisa mendakinya? Musatahil! Benar-benar mustahil! Tak ada satu pun orang yang berhasil sampai ke puncak itu. Tapi, Tohari bersikeras kalau dia bisa sampai ke puncak. Tapi, dengan cara apa? Entahlah, hanya lelaki itu yang tahu.

***

Tohari, telah mempersiapkan segalanya. Dia tak ingin rencananya gagal. Segala keperluan seperti; Kernmantle Rope atau Tali Karmantel, Hardness, Carabiner, Ascender, Descender, Webbing, hingga semua yang dibutuhkan dalam panjat tebing disiapkannya dan dimasukkan ke dalam ransel yang cukup besar.

Semuanya sudah siap. Gumamnya. Pemuda itu langsung melangkah keluar menemui teman-temannya yang sudah menunggu di mobil sejak tadi. Mereka berangkat menggunakan mobil Jeep milik Kusno. Tohari duduk di depan menemani Kusno mengemudi. Sementara Lioni dan Eren duduk di belakang. Mobil terus melaju menembus angin pagi yang masih segar.

Tiga jam kemudian mereka berempat tiba di tebing yang di tuju. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena harus melewati jalan yang berkelak-kelok, licin, juga terjal. Tohari menatap lekat-lekat tebing dihadapannya. Tebing itu sangat tinggi menjulang. Konon, tak ada satu pun pendaki yang berhasil sampai ke puncak tebing yang diketahui bernama Kegagalan itu.

Kusno menepuk bahu Tohari seraya tersenyum tipis. Pemuda itu bergeming. Matanya masih menyorot tajam tebing yang menjulang itu. Tidak mungkin tebing macam ini tak ada yang mampu mendakinya. Pikirnya begitu. Daripada lelaki itu mati penasaran, Tohari bergegas memakai perlengkapan mendakinya. Kusno, Lioni, juga Eren telah lebih dulu mengenakan perlengkapan. Kini mereka siap menaklukan Tebing Kegagalan.

Tanpa aba-aba, Tohari memanjat tebing itu lebih dulu. Disusul Kusno, Lioni, dan Eren di belakang. Tebing itu ternyata sangat licin juga curam. Kakinya sesekali tergelincir saat mencari batu pijakan. Beruntung, pemuda itu sigap higga ia tak terjatuh.

Tohari berhasil sampai ke tengah. Tinggal setengah lagi dia akan sampai ke puncak. Tapi, semakin tinggi tebing itu semakin curam juga licin. Lelaki itu nyaris kehilangan keseimbangan, dan membuatnya terjatuh.

Pemuda itu menarik napas panjang. Dadanya amat berat. Tubuhnya juga berkeringat. Di bawa pemuda itu, Kusno, Lioni, juga Eren sedang berjuang agar bisa sejajar dengan Tohari. Tapi, mereka selalu gagal. Mereka terlincir hingga ke bawah. Beruntung, mereka selamat karena belum terlalu tinggi mendaki. Mereka kembali mencoba hingga berulang kali. Baru satu dua meter mereka sudah berada di bawah karena tergelincir. Batu yang mereka pijak begitu licin hingga membuat kehilangan keseimbangan.

Tohari mulai mengatur napas. Dia harus tetap sampai ke puncak. Apapun yang terjadi. Kakinya ke sana kemari mencari pijakan. Sesekali tubuh kurusnya limbung. Namun, dia masih bertahan. Peluh begitu deras bercucuran hingga membasahi tubuhnya. Tohari terus naik.

Pada saat pijakan yang terakhir, tubuhnya tiba-tiba limbung. Seperti ada yang mendorong dari belakang. Tubuh pemuda itu terjun bebas ke bawah. Beruntung, tangan kirinya berhasil menggapai sebuah batuh. Hingga ia tidak jadi jatuh ke bawah. Peluh kian menetes, tubuhnya mendadak lemas. Tangan yang berpegang pada batu sudah tak kuat menahan dirinya.

Napasnya tersengal. Tohari menelan ludah. Menatap ngeri ke bawah. Jika dia jatuh, maka dia akan mati. Lelaki itu berusaha kembali naik ke atas. Kakinya meliuk-liuk mencari pijakan. Terlambat. Sebelum kakinya menemukan pijakan, tangannya terlepas. Tubuh lelaki itu kembali terjun bebas. Pemuda itu pasrah akan ajalnya. Dia memejamkan mata. Sejurus kemudian, dia merasa tubuhnya seperti kapas, melayang bebas. Entah keajaiban atau apa, tapi pemuda itu mendarat dengan mulus. Tanpa sedikit pun hilang dari tubuhnya.

Kusno, Lioni, juga Eren ternganga melihat temannya mendarat dengan mulus. Mungkin itu cara-Nya mengasihi pemuda itu dengan menyelamatkannya. Tapi, pemuda itu masih penasaran dengan Tebing Kegagalan. Ke tiga temannya berusaha mencegah pemuda itu. Mereka khawatir, akan terjadi sesuatu pada pemuda kurus itu bila memaksa mendaki.

Tohari terdiam sejenak. Berpikir. Menurutnya, pendapat temnan-temannya ada benarnya. Dia memutuskan untuk kembali, tidak jadi melanjutkan pendakian. Setelah merapikan dan mengemas peralatan, mereka semua masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah hilang menembus jalan. Di satu sisi lain, Tebing Kegagalan tersenyum getir menatap rombongan Tohari yang beranjak hilang dari pandangan. Mereka gagal.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen: Tebing Kegagalan"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel