Cerpen : Ujian yang Mengerikan




Besok, adalah hari yang paling penting. Hari di mana semua siswa bisa naik kelas. Atau justru tinggal kelas. Semua anak pasti di sibukkan dengan kegiatan belajar untuk menghadapi ulangan kenaikan kelas (UKK).

Begitu juga seharusnya yang dilakukan Cindy, bocah kelas 3 sekolah dasar. tapi, tidaklah demikian yang terjadi, bocah sembilan tahun ini lebih asyik bermain bersama teman-temannya di banding harus belajar. Menurutnya, belajar adalah pekerjaan yang paling membosankan di dunia.

Cindy, tak pernah mengindahkan nasihat guru dan kedua orang tuanya. Gurunya berulang-ulang kali menasihatinya agar ia belajar dan bisa naik kelas. Tapi, nasihat itu hanya di anggapnya sebagai angin lalu.

“Cindy, besok kamu ulangan, ayo belajar,” perintah ibunya

“Ntar aja ah Bu,” balasnya sambil mengelus-elus boneka kesayangannya.

Jika di rumah, bocah itu selalu bermain dengan boneka kesayangannya. Boneka yang ia beri nama Cimut. Cimut selau berada di sampingnya. Ke mana bocah itu pergi, boneka itu selalu menyertainya.

Di dalam kamar mungilnya, banyak mainan terserak di mana-mana. Begitulah, kelakuan bocah itu saat di rumah. Ia keluarkan semua mainan yang ia miliki sampai kamarnya sesak dengan mainan.

Ibunya, yang melihat kamar anaknya berantakkan, cepa-cepat membereskannya. Lalu sang ibu menyuruh putri kecil untuk belajar. Karena besok adalah hari yang sangat menentukan. Hari yang akan membuat putrinya naik satu tangga atau tetap berada di tangga yang sama.

Lagi-lagi bocah itu, tak peduli dengan perkataan ibunya. Ia masih saja bermain dengan Cimut. Buku yang ada di hapannya, sesekali hanya ia lirik tanpa menyentuhnya.

***

Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan masuk ke ruangan masing. Begitu juga dengan Cindy, bocah itu masuk dengan mata terkantuk-kantuk. Sepertinya, semalam ia tidur larut. Mungkin, karena terlalu asyik bermain dengan Cimut. Boneka kesayangannya itu.

Petugas ujian membagikan lembar soal yang akan di ujikan. Mata pelajaran pertama yang di ujikan adalah Matemaika. Mata pelajaran yang amat di benci bocah itu. Ya, ia tak pernah menyukai mata pelajaran itu, sejak bocah itu mendapat nilai nol ketika duduk di kelas dua.

Sejak itu, bocah sembilan tahun ini sangat membenci Matematika. Ia sangat malu ketika teman-temannya menertawakannya saat mereka tahu bocah itu mendapat nilai nol. Cindy tak ingin mengingatnya kembali, bahkan mengenangnya. Sungguh, peristiwa yang tak layak untuk di kenang.

Sejak itu, ia tahu Matematika itu bukan sahabat baiknya. Kenapa ini duluan sih! Gumamnya kesal. Ini hari yang buruk untuknya. Hari ini, bocah sembilan tahun itu harus berhadapan dengan mata pelajaran yang amat di bencinya.

Mata pelajaran yang telah membuat malu hidupnya. Dengan di tertawak oleh teman-temannya. Ia tak berharap hari ini ada. Ini pasti Cuma mimpi. Bisiknya.

“Ah..” bocah itu mencubit pipinya.

Ini bukan mimpi. Gumamnya menahan sedikit nyeri di pipi. Ini benar-benar hari yang buruk. Sungguh buruk. Lembar putih yang berisi lautan angka itu kini ada di hadapannya. Lembar itu bagaikan monster yang siap menerkamnya setiap saat.

Mengerikan. Tubuh bocah itu bergetar. Giginya gemerutuk. Monster membuat mulutnya lebar-lebar. Terlihat giginya yang besar dan tajam. Siap memangsa siapa saja. Cindy, mencoba bangkit dari duduknya.

Namun, tubuhnya tak dapat di gerakan. Tamatlah riwayatnya. Monster itu ini siap menerkamnya. Badannya menggigil hebat, padahal suhu di ruangan cukup hangat.

Tiba-tiba pundaknya terasa di cengkram. Ia tak berani menoleh. Mungkin, kini monster itu telah mencengkram pundaknya. Tubuhnya gemetar hebat.

Ia mencoba memutar badan, melihat siapa yang ada di belakangnya. Ah, hanya seorang petugas ujian. Bocah itu bernapas lega. Petugas itu membuyarkan lamunannya. Ia bisa selamat dari monster itu. Tapi, tunggu dulu. Ia belum selamat.

Petugas ujian memberitahukan bahwa 30 menit lagi ujian akan selesai. Semua siswa di minta mengisi semua soal dengan baik dan memeriksanya kembali. Bocah itu panik. Lembar putih yang berisi lautan angka, berada tepat di hadapannya. Namun, tak satu pun soal yang berhasil ia jawab. Soal itu masih mulus persis saat di bagikan tadi. Apa yang harus aku jawab? Tanyanya.

Ia sama sekali tak paham dengan pertanyaan yang ada di soal itu. Terlebih, semalam bocah itu tidak belajar. Malah asyik bermain dengan Cimut. Boneka kesayangannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Ujian yang Mengerikan"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel