Cerpen : Mati di Tangan Ular Naga




“Kasihan dia, mati dengar cara yang mengenaskan seperti itu,” ujar salah satu penduduk.

“Iya, mana dia masih muda lagi,” jawab penduduk yang lain.

Karto, pemuda dua puluh lima tahun, harus meregang nyawa dengan tidak wajar. Tubuhnya hangus terbakar dan hancur. Penduduk setempat mengira ini adalah ulah ular jadi-jadian yang sempat geger puluhan tahun lalu. Ular itu tidak seperti ular biasa, kepalanya mirip seekor naga. Ujar beberapa penduduk yang sempat melihatnya.

***

Beberapa hari lalu, penduduk digegerkan dengan sosok seekor ular yang melintas di perkampungan mereka. Menurut mereka ular itu jelmaan makhluk halus milik seorang dukun di desa setempat. Warsih, penjual kelontong desa itu, sempat melihat ular itu melintas di depan warungnya.”Ular itu besar, dan kepalanya mirip seekor naga,” ujar perempuan paruh baya itu mengenang.

Karto, pemuda 25 tahun itu penasaran dengan sosok ular berkepala naga itu. Rasanya ia tidak puas bila tidak melihat langsung. Warsih mengingatkannya untuk jangan bermain-main dengan ular naga itu, ketika Karto singgah di warungnya. “Ular itu bukan ular sembarangan, Mas,” ujar perempuan itu kepada Karto sambil mengelap gelas yang ada di tangannya.

Karto masih keukeuh ingin melihat ular itu. Ular itu adalah jelmaan arwah-arwah makhluk halus yang gentayangan. Biasanya ketika ular itu muncul, maka akan ada salah satu penduduk yang menjadi santapannya untuk dijadikan tumbal.

Penduduk khawatir, akan ada satu korban lagi yang jadi tumbal. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ular itu selalu mencari darah segar sebagai santapannya. Begitulah, cerita tentang ular berkepala naga yang diketahui penduduk secara turun-temurun.

***

Ular itu bersemayam di salah goa dekat desa setempat. Tak ada penduduk yang berani datang ke goa itu. Mereka tidak ingin nasib tragis menimpa mereka seperti penduduk yang lain. Setiap penduduk yang berani masuk ke goa itu, akan bernasib sama seperti mereka yang lebih dulu masuk, tubuhnya hangus oleh semburan api ular itu dan hancur.

Penduduk tidak ingin hal itu terjadi pada Karto atau penduduk yang lain. Karto masih sangat muda untuk mati. Masih banyak hal yang bisa ia lakukan selain menemui ular itu. Menemui ular itu sama saja dengan menemui kematian.

“To, sebaiknya kamu urungkan saja niatmu itu,” ujar Karman ketua RT setempat.

“Tidak, Pak. Saya akan tetap menemui ular itu. Kalau perlu saya akan membunuhnya! Agar tak ada lagi penduduk yang jadi korban,” jawabnya mantap.

“Jangan konyol kamu. Kamu bisa mati sia-sia tahu!’ jawab salah seorang penduduk dengan nada tinggi.

“Benar itu To, kamu kan masih muda jangan sampai mati konyol hanya gara-gara ingin melihat ular berkepala naga bahkan sampai ingin membunuhnya,” sahut karman menambahkan.

Karto hanya terdiam dan bisu. Ia tetap bergeming pada pendiriannya. Lalu ia beranjak dari kerumunan penduduk yang memenuhi warung Warsih.

***

Pagi itu, Karto memesan kopi di warung Warsih, “Kopi satu, Bu”.

Tak lama kopi hitam pun sudah dihidangkan dihadapannya. Warsih lalu menceritakan asal-muasal adanya keberadaan ular itu. Beberapa puluh tahun silam, ada seorang dukun datang ke desa kami. Dukun itu tinggal di gubuk tua dekat hutan. Tak banyak yang tahu apa yang dilakukannya.

Suatu ketika, terdengar kabar bahwa dukun itu main ilmu hitam. Beberapa penduduk pun datang ke sana. Ada yang minta cepat kaya, dicarikan jodoh, bahkan sampai ingin awet muda, dan berbagai permintaan lainnya. Sejak itu, desa ini menjadi tidak aman. Banyak arwah-arwah makhluk halus bergentayangan.

Adalah Wadiman, seorang yang miskin dan tinggal di bilik datang ke sang dukun untuk minta dijadikan kaya raya. Dukun itu pun menyanggupinya. Tapi, dengan syarat selama 40 hari 40 malam, Wadiman harus memberikan tumbal berupa darah segar 40 gadis yang masih perawan.

Kalau sampai hari ke 40 Wadiman tidak bisa memenuhinya, maka ia yang akan jadi tumbalnya. Sejak saat itu, ia selalu menculik anak gadis di desa dan membunuhnya. Mayatnya di buang ke laut, ia hanya mengambil darahnya saja.

Melihat banyak gadis yang terbunuh, Karman pun geram. Ia bersama para warga mendatangi rumah Wadiman dan ingin membunuhnya. Sayang, Karman tidak punya bukti untuk menjerat Wadiman. Wadiman pun dibebaskan.

Pada hari ke 40, Karman memergoki seseorang dengan penutup kepala hitam sedang mengendap-endap di sebuah rumah salah seorang penduduk. Di rumah itu terdapat gadis yang masih belia berumur tujuh belas tahun. Tak salah lagi, orang itu pasti Wadiman, guman Karman kesal. Ketua RT itu tidak mau bertindak gegabah, sontak ia memutar badan dan berlari memanggil warga yang lain.

Karman dan para warga mengendap-endap hendak meringkus Wadiman. Akhirnya, Wadiman pun tertangkap dan diadili penduduk setempat. Wadiman mengaku ia meakukan itu semua demi ia bisa cepat kaya. Lelaki kurus itu, hanya butuh satu darah gadis perawan lagi dan mimpinya segera terwujud.

Namun sayang, hari itu menjadi hari malangnya. Ia di geret oleh penduduk menuju gubuk tua tempat sang dukun tinggal. Penduduk yang geram, membakar Wadiman dan dukun itu bersama gubuknya. Mereka berdua mati terbakar. Arwah-arwah makhluk halus yang dipelihara sang dukun mengeluarkan suara-suara aneh. Seakan arwah itu tidak terima dengan kematian dukun itu.

Sejak itu, tak ada yang tahu pasti ke mana arwah-arwah itu pergi. Sejak kejadian itu pula muncul ular berkepala naga. Mungkin itu jelmaan dari arwah-arwah makhluk astral yang dimiliki oleh sang dukun. Begitulah, ular itu selalu meminta tumbal setiap tahunnya. Dan, tak ada satu penduduk pun yang berani mengusiknya. Mengusik ular itu sama saja dengan mengantarkan kematian. Tak ada yang tahu persis, mengapa ular berkepala naga itu datang ke desa kami dan meminta tumbal. Cerita Warsih, kepada Karto, saat pemuda itu singgah di warungnya.

Mendengar cerita dari pemilik warung kelontong itu, Karto semakin penasaran. Ia bangkit lalu beranjak pergi dari warung itu setelah membayar kopinya.

***

Karto berjalan pelan menuju goa. Tempat tinggal ular berkepala naga. Ia berjalan sangat hati-hati agar tak membangunkan ular itu. Di dalam sangat gelap dan sunyi. Pemuda itu tak bisa melihat apa-apa. Beruntung, ia membawa senter. Ia menghidupkan senter itu, dan berjalan menelusuri goa.

Tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ternyata, ekor sang ular yang ia injak. Belum sempat pemuda itu melarikan diri, ular itu langsung menyemburkan api tepat di wajah pemuda berusia 25 tahun itu. Karto pun tersungkur, dengan wajah hangus terbakar. Tubuhnya sudah tak berdaya. Ia pun meregang nyawa di tangan ular naga.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Mati di Tangan Ular Naga"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel