Cerpen : Cinta Gadis Tomboy

gadis tomboy
StockSnap on Pixabay

Gawat, telat! Santy melirik ke arah jam. Pukul 06.30, gadis itu panik. Lalu bergegas menuju kamar mandi. Tak sempat sarapan, gadis enam belas tahun itu langsung berangkat menuju sekolah. Mampus gue telat! Gumamnya. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju ruang kelas.

Pak Eko, guru matematikanya, sudah menunggu di dalam. Dengan sedkit gugup, gadis itu memberanikan diri mengetuk pintu.

“Permisi, maaf Pak, boleh saya masuk?” tanyanya gugup.

“Sudah jam berapa ini santy?!” Pak Eko balas bertanya, dengan nada agak tinggi.

“Maaf Pak, saya kesiangan,” jawab Santy dengan kepala tertunduk.

“Hah? Kesiangan? Memang kamu tidur jam berapa? Ya sudah, kali ini kamu saya maafkan. Sana kembali ke tempat dudukmu,” Pak Eko menyuruh Santy duduk.

Santy tak menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya. Ia bergegas pergi ke tempat duduknya.

“Tumben lo kesiangan?” tanya Rika, teman sebangkunya.

“Iya, gue abis nonton drama Korea sampai malam,” jawab gadis itu sambil meletakkan tasnya di atas meja.

“Gila lo! Nonton drama Korea sampai segitunya!” sahut temannya heran.

Santy tidak menanggapi celotehan temannya itu. Gadis itu sibuk memperhatikan Pak Eko di depan kelas. Waktu cepat berlalu. Jam pulang sekolah pun tiba. Santy merapikan barang-barangnya, lalu bergegas pulang.

“San, pulang bareng gue, yuk!” ajak Dion, teman sekelasnya.

“Ayo,” jawab gadis itu cepat.

Rumah Santy dan Dion memang satu arah. Tak aneh, jika mereka pulang bareng. Santy menganggap Dion hanya sebagai teman biasa. Tapi, berbeda dengan Santy, Dion justru menganggap gadis itu bukan sekadar teman biasa. Dion berharap lebih. Tak banyak yang mereka ceritakan. Mereka lebih banyak diam sepanjang perjalanan pulang.

***

Dion memang sudah menyukai Santy sejak duduk di bangku kelas 10. Tapi, laki-laki itu tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dion, memang tipe laki-laki pemalu. Tapi, dia pria yang baik dan cukup pintar di sekolah.

Dion selalu membantu Santy dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tak jarang pula, laki-laki itu membantu gadis tomboy itu dalam mengerjakan PR matematika. Secara Dion memang pandai dalam bidang itu daripada teman-temannya yang lain. Termasuk juga Santy.

***

“San, emangnya lo nggak nyadar apa?!” tanya Rika penasaran.

“Nyadar apa maksud lo?” Santy balas bertanya.

“Itu si Dion,” sahut Rika.

“Iya, dia kenapa emangnya?” tanya gadis itu makin penasaran.

“Masak lo nggak nyadar. Dia tuh sebenarnya suka sama lo,” ujar temannya itu.

Gadis itu terdiam sejenak. Ia mengaduk-ngaduk minumannya yang hanya tinggal setengah gelas.

“Ah, masa?” sahut gadis itu penasaran.

Tak lama kemudian, terdengar suara bel. Tanda waktu istirahar sudah habis. Waktunya mereka kembali ke kelas. Santy dan Rika pun beranjak dari kantin, dan melangkah menuju kelas.

***

Santy masih memikirkan perkataan Rika tadi siang. Apa benar Dion menyukainya? Tanyanya. Perempuan tomboy seperti gue? Batinnya bertanya-tanya. Entahlah, saat ini gadis itu tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Dion. Apa gue juga suka sama dia? Gumamnya.

Setiap kali bertemu laki-laki itu, tak ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Biasa saja. Itu yang dia rasakan selama ini. Gadis tomboy itu masih menerka-nerka. Apa benar Dion menyukainya? Dia kembali bertanya pada diri sendiri.

Ah, rasanya tidak mungkin itu terjadi. Secara gadis itu tomboy, nggak pinter pula. Malah sering buat ulah di sekolah. Tapi, kenapa pria itu mencintainya? Batinnya masih terus bertanya-tanya.

Nggak mungkin. Itu nggak mungkin. Rika mungkin hanya bergurau. Ya, bergurau. Temannya itu memang suka bergurau. Tapi, tidak untuk urusan ini. Santy tahu betul kapan saat temannya bergurau kapan tidak. Tapi, tentang Dion, dia nggak mungkin bergurau. Santy dan Rika sudah bersahabat selamat dua tahun. Nggak mungkin Rika bergurau untuk urusan Dion.

Lagi pula buat apa dia bergurau? Nggak lucu. Sama sekali nggak lucu. Gadis itu masih memikirkan perkataan sahabatnya tadi siang. Ia lalu mengambil secarik kertas, dan menuliskan apa saja yang ada dipikirannya. Gadis itu terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang ia tulis. Gadis itu menulis I Love You Dion.
Toni Al-Munawwar
Toni Al-Munawwar Toni Al-Munawwar adalah seorang blogger dan penulis buku. Ia mulai menekuni dunia menulis dari blog pribadinya. Beberapa tulisannya pernah dimuat media cetak dan elektronik.

Posting Komentar untuk "Cerpen : Cinta Gadis Tomboy"