Cerpen : Pelajar Pensiun




Pagi itu seperti biasa ibu berangkat pagi-pagi sekali. Sarapan pagi, sudah ia siapkan di atas meja. Ia berangkat mengenakan kaus berwarna orange yang tampak lusuh dan warnanya mulai memudar. Kaus yang bertuliskan “Dinas Kebersihan” di belakangnya. Seperti biasa, ibu menyapu jalan demi jalan. Jalan yang tak pernah ada ujungnya. Seperti itulah kasihnya terhadap Raka anak semata wayangnya.

Pagi ini Raka kesiangan lagi, dengan secepat kilat ia bergegas menuju kamar mandi. Menu sarapan yang telah disiapkan ibunya, ia lahap dengan tergesa-gesa. Tak sempat ia merapikan bajunya, ia langsung berlari secepat kilat menuju sekolahnya.

Hari ini ada pelajaran matematika, pelajaran yang amat di bencinya. Entah mengapa Raka tak suka dengan pelajaran angka-angka. Melihat angka sebanyak itu, kepalanya saja sudah pusing. Terlebih, Pak Burhan guru matematika Raka sangat galak. Sorot matanya yang tajam, membuat Raka tak berani menatapnya saat Pak Burhan sedang menjelaskan. Mungkin, itu salah satu sebab mengapa Raka tak suka pelajaran matematika.

Dengan napas tersengal ia berlari menuju ruang kelasnya. Berharap, kalau Pak Burhan tak memarahi dan menghukumnya lagi. Ini sudah ke sekian kalinya Raka terlambat. Dengan hati yang sedikit gugup, ia mencoba memberanikan diri mengetuk pintu kelas. Sambil sesekali ia menari napas kecil.

Terdengar suara ketukan pintu dari luar kelas. “Masuk,” sahut Pak Burhan. Terdengar suara derit pintu, “Perimisi Pak, maaf saya terlambat,” jawab Raka dengan gugup dan sedikit menundukkan kepala. “Kamu ini terlambat lagi! Ini sudah yang ke sekian kali kamu terlambat, tahu!” Pak Burhan sedikit geram. “Saya kesiangan Pak,” jawab Raka dengan suara parau. “Selalu saja itu alasanmu! Sudah-sudah, sekarang kamu kembali ke tempat dudukmu. Nanti sehabis jam pelajaran Bapak, Kamu saya tunggu di ruang kepala sekolah,” Pak Burhan menyuruh Raka duduk. “Iya Pak,” jawab Raka sambil menuju tempat duduknya.

Raka masih tak memerhatikan Pak Burhan yang sedang menjelaskan materi persamaan kuadrat. Saat ini Raka duduk di kelas dua di SMP Sukamaju. Kata-kata Pak Burhan masih brkelebat di keningnya. Hukuman apa lagi yang akan di berikan Pak Burhan untukku. Gumamnya dalam hati.

“Raka!” bentak Pak Burhan membuyarkan lamunannya.

“I.. Iya, Pak,” jawab Raka gugup.

“Cepat buka bukumu!” perintah Pak Burhan.

Raka mengangguk, dengan segera ia membuka buku seperti yang di perintahkan Pak Burhan kepadanya. Dengan malas, ia membolak-balikan halaman demi halaman buku pelajarannya. Sesekali ia melengos ke luar jendela, melihat burung-burung yang bertengger di atas pohon yang rindang. Namun, hatinya masih tetap saja gelisah. Memikirkan kata-kata Pak Burhan tadi.

Raka takut kalau Pak Burhan akan memberikan hukumaan yang lebih berat padanya. Ini sudah yang ke sembilan kalinya Raka terlambat. Guru-guru pun mencibir Raka. Sebagian guru meminta Raka untuk di keluarkan dari sekolah. Karena ia sudah terlalu sering terlambat. Pak Burhan, guru matematika Raka sekaligus kepala sekolah masih memberinya kesempatan.

Apakah aku akan di keluarkan dari sekolah? Jeritnya dalam hati. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Bagaimana aku harus mengatakan pada ibu bila ini semua benar-benar terjadi? Lirihnya. Dadanya serasa sesak, seperti ada yang memenuhi rongga dadanya. Suara bel membuyarkan lamunan Raka.

Bel tanda istirahat, sekaligus tanda jam pelajaran Pak Burhan telah usai. Pak Burhan menyuruh Raka ikut dengannya. Raka pun mengekornya. Dengan perasaan gamang, Raka berjalan lambat mengikuti Pak Burhan yang berada di depannya. Sesekali kepalanya tertunduk.

Sesampainya di ruang kepala sekolah, Raka dipersilahkan duduk. “Raka, ini sudah yang kesembilan kalinya kamu terlambat,” ujar Pak Burhan. “Iya Pak, saya kesiangan. Maafkan saya,” jawab Raka tak berani mengangkat kepala. “Kenapa kamu bisa kesiangan?” tanya Pak Burhan penasaran. “Setiap malam, saya belajar hingga larut Pak,” jawabnya masih dengan kepala tertunduk. “Bagus, kalau kamu belajar. Tapi kamu harus bisa membagi waktumu untuk belajar dan juga istirahat. Jadi, kamu tidak terlambat lagi,” tegas Pak Burhan. “Iya Pak, lain kain saya akan membagi waktu. Agar saya tidak kesiangan,” jawab Raka. Pak Burhan, tiba-tiba menyodorkan amplop putih kepadanya. “Ini apa Pak? tanya Raka sambil memandangi amplop di hadapannya. “Ini surat untuk orang tuamu. Kamu saya skorsing selama satu minggu,” Pak Burhan menjelaskan. “Jangan skorsing saya Pak,” rengeknya. “Maaf Raka ini sudah menjadi kebijakan sekolah,” kilah Pak Burhan.

Raka keluar dengan wajah murung, sambil membawa amplop putih pemberian Pak Burhan. Tanpa sadar, bulir air membasahi pipinya. Air yang sedari tadi ingin ia tumpahkan. Akhirnya, air itu tumpah tak terbendung lagi.

***

Raka terduduk di sudut kamarnya. Ia memandang ke langit-langit sambil memegangi amplop putih dari Pak Burhan. Ia tidak ingin ibunya tahu kalau ia telah di skors oleh sekolah. Lalu ia menyelipkan amplop itu di bawah kasurnya. Semoga saja ibu tidak tahu. Gumamnya.

Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Cepat-cepat Raka menghampiri suara itu dan membukakan pintu. Ternyata ibunya yang ada dari balik daun pintu. “Kok tidak menjawab salam Ibu?” tanya ibunya. “Waalaikum salam. Maaf Bu, tadi aku sedang di kamar. Jadi tidak mendengar salam Ibu,” jawab Raka sambil menyunggingkan senyum tipis pada ibunya. “Bagaimana sekolahmu hari ini?” tanya ibunya kembali. “Alhamdulillah, lancar Bu,” jawabnya.

Raka tidak ingin ibunya tahu keadaan yang sebenarnya. Ia terpaksa berbohong pada ibunya. Maafkan aku Bu, aku terpaksa berbohong. Bisiknya dalam hati. Lalu berjalan gontai menuju kamarnya. Raka tidak ingin melihat ibunya sedih bila ibunya tahu yang sebenarnya.

Tapi disisi lain Raka tak ingin berbohong ibunya. Raka tahu, cepat atau lambat ibunya akan mengetahui hal ini. Apa yang harus kulakukan? Tanyanya dalam hati. Apa yang kulakukan ini adalah salah? Pikirannya semakin keruh. Sekeruh perasaannya saat ini. Tanpa sadar, pipinya sudah dibanjiri berliter-liter air. Air yang tumpah dari celah matanya. Dadanya sesak. Napasnya berat. Sesekali ia menangis tersedu-sedu. Menumpahkan seluruh isi yang memenuhi rongga dadanya. Yang sejak kemarin bersemayam di dalam tubuhnya. Tubuh yang renta akan dosa kehidupan yang ia lakukan. Lalu ia memgambil amplop dali balik kasurnya. Dan berkata, “Ibu, maafkan aku”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Pelajar Pensiun"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel