Cerpen : Ibu, Aku Ingin Pulang




“Nak, kamu kapan pulang?” tanya suara dari balik telepon. Suara perempuan yang melahirkanku.

“Iya, nanti aku pulang Bu,” jawabku singkat.

“Tapi, Ibu sudah kangen sekali denganmu Nak,” balas Ibu dengan suara lirih.

Sejenak aku terdiam mendengar perkataan ibu. Suasana berubah menjadi hening. Tak terdengar lagi suara perempuan dari balik telepon. Pikiranku benar-benar buncah, apa yang harus kukatakan pada ibu. Jeritku dalam hati.

“Nak,” suara dari balik telepon terdengar sayup-sayup.

“Iya, Bu,” jawabku singkat.

“Kapan kamu,..” belum sempat ibu melanjutkan pembicaraannya, cepat-cepat kupotong dan kukatakan padanya aku akan pulang jika sekolahku sudah selesai. Ibu yang mendengar itu, tak banyak menjawab dan langsung menutup teleponnya.

Aku bisa merasakan perasaannya yang sedih. Namun, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Sekolahku juga belum selesai. Apalagi sebentar lagi aku harus menghadapi ujian akhir. Aku harus belajar sungguh-sungguh. Aku tidak ingin mengecewakan ibu dan pamanku.

Terlebih pamanku, aku tak ingin membuatnya kecewa dengan menurunnya prestasiku di sekolah. Aku tinggal bersama pamanku. Dan pamanku-lah yang membiayai sekolahku selama aku tinggal bersamanya. Waktu itu, ibu menyuruhku untuk pergi ke Jakarta. Di sana, ada salah seorang saudara ibu katanya. Jika aku pergi ke sana, aku akan bisa melanjutkan sekolah. Awalnya, aku menolak. Biarlah, aku tetap disini merawat ibu. Kataku.

Namun, ibu terus memasakku untuk pergi ke Jakarta. Ibu ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi agar mudah ketika mencari pekerjaan. Ya, aku memang hanya lulusan SMP. Orang tuaku tidak sanggup lagi membiayaiku sampai ke SMA. Terlebih lagi, sejak mendiang Bapak tidak ada. Ibu harus bekerja ekstra keras untuk bisa membiayai kebutuhan kami.

Ya, aku memang satu-satunya anak yang dimiliki oleh ibu. Jika aku pergi, nanti siapa yang merawat ibu. Batinku dalam hati. “Kan ada Mas Pri,” jawab ibu. Ya, Mas Pri adalah satu-satunya saudara yang dimiliki ibu di kampung. Saudara yang lainnya kebanyakan orang perantauan. Tidak tentu kapan mereka akan pulang ke kampung halamannya. Terlebih, hidup mereka saat ini jauh lebih baik daripada saat mereka tinggal di kampung dulu.

***

Ujian akhir tinggal menghitung hari. Aku harus segera menyiapkan diri. Namun, bayang-bayang ibu masih berkelebat di kepalaku. Membuat perasaanku menjadi keruh. Jujur, aku ingin sekali pulang ke Purworejo. Kampung halamanku. Kampung kelahiranku.

Aku hidup dan besar di sana. Di rumah mungil nan sederhana. Rumah yang berbentuk joglo. Rumah khas orang jawa. Aku rindu akan pemandangan sawah yang matang. Aku melihat pagi sambil menikmati sejuknya udara di pedesaan. Ya, udara di sini belum terkontaminasi oleh polusi udara. Juga polusi akibat kendaraan bermotor.

Keadaan ini sungguh berbanding terbalik, yang aku alami saat di Jakarta. Tak ada lagi pepohonan yang rindang. Semuanya telah di gantikan oleh gedung-gedung pencakar langit. Pemandangan yang lumrah ditemui, di kota metropolitan ini.

Walau kita dipisahkan oleh jarak. Tapi hati kita saling terpaut Bu. Aku rindu ibu. Bisikku dalam hati. Maafkan aku, belum bisa pulang sekarang. Aku harus fokus untuk ujian akhir dulu Bu. Batinku dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara derit pintu yang terbuka. Ada bayangan sesosok laki-laki yang ingin mencoba masuk. “Kamu sudah belajar?” tanyanya. Ternyata, lelaki itu adalah pamanku. “Iya paman, ini baru mau belajar,” jawabku. “Ya sudah, lanjutkan belajarmu! Sebentar lagi kamu ujian kan?” balas lelaki itu, kemudian menutup pintu kembali dan berlalu begitu saja.

Aku mencoba membuka-buka buku pelajaran. Halaman demi halaman terus ku bolak-balik. Namun, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Sesuatu yang membuat pikiranku menjadi keruh. Dan juga membuatku kesepian. Aku rindu akan belaian tangannya yang membelai lembut rambutku. Suasana di kamar tiba-tiba berubah menjadi hening dan sepi. Sepertinya mereka tahu akan isi hatiku.

“Nur, ibumu,” paman memberi tahu dengan napas tersengal

“Kenapa dengan ibu, paman?” jawabku penasaran

“Ibumu sudah...,” paman itu mencoba menjelaskan. Perkataannya terhenti sejenak. Belum sempat ia melanjutkan. “Ibu..........................!” teriakku memotong perkataan paman.

Tiba-tiba aku terperanjat. Aku melihat ke arah jam, jarum jam menunjukkan tepat pukul enam pagi.. Aku rindu ibu. Ibu, aku ingin pulang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Ibu, Aku Ingin Pulang"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel