Cerpen : Aku Bukan Pencuri




Seperti biasa, anak-anak berebut stop kontak. Mereka semua saling mendahului. Siapa cepat dia dapat. Bukan tanpa alasan mereka berebut stop kontak, biasanya karena HP masing-masing sudah low mereka akan berebut benda berbentuk bulat itu demi bisa men-charge HP masing-masing.

Seperti itulah pemandangan yang biasa dilihat Tio, setiap kali ia berada dikelas. Dalam satu hari, biasanya ada 3 sampai 5 anak yang menggunakan stop kontak secara bergiliran. Maka jangan aneh ketika membuka isi tas para siswa jika ternyata ada charger ­didalamnya. Di sekolah Tio, memang diperkenankan membawa HP. Tapi, pihak sekolah menghimbau agar HP tidak digunakan saat jam pelajaran.

Meskipun begitu, Riki teman sekelasnya, selalu mencuri-curi kesempatan dengan bermain HP di kolong meja. Tidak hanya Riki, hampir semua teman Tio melakukan hal yang sama, termasuk juga Tio. Sesekali ia mencoba melirik HP-nya, karena bosan dengan mata pelajaran ekonomi. Berulang kali ia berusaha memerhatikan penjelasan yang diberikan oleh Bu Reko, guru ekonominya itu, berulang kali pula Tio gagal paham.

Entah mengapa, ia tidak bisa memahami materi yang sudah dijelaskan oleh Bu Reko. Yang jelas, setiap kali guru itu mengajar, Tio berulang kali gagal memahami materi yang disampaikan oleh gurunya itu. Bosan karena berulang kali gagal paham, ia mencoba melirik HP-nya yang tersimpan dibalik saku celananya.

Seperti teman-temannya yang lain, Tio asyik berselancar di media sosial. Ketika batre HP-nya hampir habis, ia ingin mencharge-nya seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. Ketika hendak memanggil Riki untuk meminjam charger, ia mengurungkan niatnya.

Guru fiqihnya pernah menjelaskan, bahwa mengambil sesuatu tanpa izin pmiliknya sama saja dengan mencuri. Meskipun hanya mengambil setetes air. Begitu penjelasan gurunya. Tio terdiam sejenak. Apa yang dikatakannya benar, gumamnya. Lalu ia tidak jadi meminjam charger kepada Riki. Ia merasa, kalau ia mencharge HP-nya menggunakan stop kontak sekolah, itu sama saja ia telah mencuri listrik milik sekolahnya itu. Tidak. Tio tidak ingin disebut sebagai pencuri seperti yang dijelaskan guru fiqihnya itu. Akhirnya, ia mematikan HP-nya sebelum HP itu benar-benar mati karena batrenya habis dan kembali memerhatikan guru fiqihnya yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerpen : Aku Bukan Pencuri"

Posting Komentar

Aturan Berkomentar : Harap dibaca dan perhatikan setiap aturan dengan saksama!

1.Berkomentar sesuai topik.
2. Dilarang Spam.
3. Dilarang meninggalkan link Blog/Web
4. Jangan basa-basi seperti mantab Gan, nice info, maupun sejenisnya.
5. Usahakan berkomentar yang relevan dengan topik yang di bahas.
6. Komentar yang menyisipkan link web atau blog, termasuk kategori spam dan tidak akan di approved!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel